Keraton Ratu Boko, Misteri nan Eksotis !!

Berbeda dengan bangunan lain dari masa klasik Jawa Tengah, Situs Ratu Boko mempunyai karakter dan keistimewaan tersendiri. Tinggalan bangunan masa klasik Jawa Tengah pada umumnya berupa candi (bangunan suci/kuil), sedang peninggalan di Situs Ratu Boko menunjukkan tidak saja bangunan suci (candi), tetapi juga bangunan-bangunan lain yang bersifat profan. Sifat keprofanan tersebut ditunjukkan oleh adanya tinggalan yang dahulunya merupakan bangunan hunian dengan tiang dan atap yang dibuat dari bahan kayu , tetapi sekarang hanya tinggal bagian batur-baturnya saja yang terbuat dari bahan batu. Di samping  bangunan-bangunan yang menunjukkan sifat sakral dan profan, di dalam Situs Ratu Boko ini juga ditemukan jenis-jenis bangunan lain, yaitu berupa kolam dan gua.

Kompleks Situs Istana atau Keraton Ratu Boko berada di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 196 meter atau tepatnya 195, 97 meter di atas permukaan laut menempati areal seluas 250.000 m2. Keraton Ratu Boko terletak di Bukit Boko, sekitar 19 kilometer ke arah timur dari kota Yogyakarta (menuju ke arah Wonosari), dari arah barat kota Solo sekitar 50 kilometer dan sekitar 3 kilometer dari Candi Prambanan ke arah selatan.

Kompleks Ratu Boko memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Karena lokasinya berada di dataran tinggi, maka dari sini terlihat pemandangan yang memukau. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya. Selain itu, arah selatan, bila cuaca cerah, di kejauhan samar-samar dapat terlihat Pantai Selatan.

Sejarah Keraton Ratu Boko

Keraton Ratu Boko hingga sekarang masih menjadi misteri yang belum dapat dijelaskan kapan dan oleh siapa nama tersebut diberikan. Kata Keraton berasal dari kata Ke-Ratu-an yang artinya istana atau tempat tinggal ratu atau berarti juga raja, sedangkan Boko berarti bangau (burung-). Hal ini masih menjadi pertanyaan siapa sebenarnya Raja Bangau tersebut, apakah penguasa pada zaman itu atau nama burung dalam arti sebenarnya yang dahulu sering hinggap di kawasan perbukitan Ratu Boko?.

Reruntuhan Keraton Ratu Boko ini ditemukan pertama kali olehVan Boeckholtz pada tahun 1790. Seabad setelah penemuan Van Boeckholtz, yaitu sekitar tahun 1890, FDK Bosch mengadakan riset arkeologis tentang peninggalan kepurbakalaan di selatan Candi Prambanan dalam laporan yang berjudul Kraton Van Ratoe Boko.

Sumber prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 Masehi, menyebutkan bahwa Keraton Ratu Boko merupakan Abhayagiri ViharaAbhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti bukit/ gunung, vihara berarti asrama/ tempat. Dengan demikian Abhayagiri Vihara berarti asrama/ tempat para bhiksu agama Budha yang terletak di atas bukit yang penuh kedamaian atau vihara tempat para Bhiksu mencari kedamaian,tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual.Pada periode berikutnya tahun sekitar tahun 856 Masehi, kompleksAbhayagiri Vihara tersebut difungsikan sebagai Keraton Walaing oleh Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu. Oleh karena itu tidak mengherankan bila unsur agama Hindu dan Buddha tampak bercampur di bangunan ini.

Struktur tata letak Keraton Ratu Boko

Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan sejarah lainnya. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya, istana atau keraton ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Hal itu terlihat dari adanya sisa bangunan di kompleks ini berupa tiang-tiang pemancang meski kini hanya tinggal batur-batur dari batu andesit, mengindikasikan bahwa dahulu terdapat bangunan yang berdiri di atasnya terbuat dari bahan kayu. Selain itu terdapat pula tanah ngarai yang luas dan subur di sebelah selatan untuk daerah pertanian dan di Bukit Boko terdapat kolam-kolam sebagai tandon penampung air yang berukuran kecil hingga besar.

Kompleks bangunan di Bukit Boko disebut sebagai keraton. Hal tersebut disinggung dalam prasasti dan juga karena mirip dengan gambaran sebuah keraton. Kitab kesusasteraan Bharatayudah, Kresnayana, Gatotkacasraya, dan Bhomakawya, menyebutkan bahwa keraton merupakan kompleks bangunan yang dikelilingi pagar gapura, di dalamnya terdapat kolam dan sejumlah bangunan lain seperti bangunan pemujaan dan di luar keraton terdapat alun-alun. Dengan demikian kompleks bangunan ini diduga memang merupakan kompleks istana atau keraton.

Tata ruang kompleks Keraton Ratu Boko relatif masih lengkap.Istana ini terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur.

  • Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban.
  • Bagian tenggara meliputi struktur lantai, gapura, batur pendopo, batur pringgitan, miniatur 3 candi, tembok kelilingkompleks Keputren, dua kompleks kolam, dan reruntuhan stupa. Kedua kompleks kolam dibatasi pagar dan memiliki gapura sebagai jalan masuk. Di dasar kolam, dipahatkan lingga yoni, langsung pada batuan induk.
  • Bagian timur terdapat kompleks bangunan meliputi satu buah kolam dan dua buah gua yang disebut Gua Lanang dan Gua Wadon, Stupa Budha, sedangkan,
  • Bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Dari pintu gerbang istana menuju ke bagian tengah Bagian depan, yaitu bagian utama, terdapat dua buah gapura tinggi, gapura yang terdiri dari dua lapis. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Pada gapura pertama terdapat tulisan Panabwara. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi kekuatan agar lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Setelah melewati gapura utama ini, terdapat hamparan rumput luas, yaitu alun-alun. Sekitar 45 meter dari gapura kedua, sisi kiri alun-alun terdapat bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya candi ini digunakan untuk upacara pembakaran jenasah.Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.

Arah tenggara dari Candi Pembakaran terdapat sumur misteri. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Airnya hingga kini masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan. Umat Hindu menggunakannya untukUpacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada kondisi harmoni awal. Sehari sebelum Nyepi proses upacara ini dilaksanakan dari Candi Prambanan.

Ke arah Barat, menyusuri Desa Dawung di lereng bukit, terdapat bekas kompleks keraton yaitu Paseban dan Batur Pendopo. Halaman paling depan terletak di sebelah barat, terdiri atas tiga teras. Masing-masing teras dipisahkan oleh pagar batu andesit setinggi 3,50 meter, dan tebing teras diperkuat dengan susunan batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit, namun batas utara merupakan dinding bukit yang dipahat langsung.

Ke bagian timur istana, terdapat dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.

Keraton Ratu Boko: Kombinasi Peninggalan Budha dan Hindu

Hal yang menarik di Keraton Ratu Boko, selain peninggalan Budha juga ditemukan benda-benda arkeologis peninggalan Hindu seperti lingga, yoni, arca durga, dan ganesha. Meski didirikan oleh seorang Budha, Keraton Ratu Boko merupakan sebuah situs kombinasi antara Budha dan Hindu, ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk yang ada, yang biasanya terdapat pada candi Budha, selain itu terdapat pula tiga candi kecil sebagai elemen dari agama Hindu, dengan adanya Lingga dan Yoni, patung Dewi Durga, dan Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Pada masa itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Awal Kejayaan tanah Sumatera

Kompleks Istana/ Keraton ratu Boko merupakan saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa dijadikan sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa). Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, Kemudian ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pemandangan senja saat matahari terbenam dari atas kawasan Bukit Boko sangat indah. Di arah utara Candi Prambanan dan Candi Kalasan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi dengan suasana pedesaan dengan sawah menghijau di sekelilingnya.

Kini situs ini dikelola oleh swasta, jadi jangan heran jika tiket masuknya lumayan menguras kantong anda T_T.

Dusun Teletubbies : yang “mblenduk”, yang bulat unik.

Dari kejauhan terlihat seperti kumpulan telur angsa raksasa. Entahlah, tapi itu yang aku rasakan ketika menginjakkan kaki di Dusun Ngelepen, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sebuah dusun unik yang tipe rumah warganya seragam dengan bentuk mblenduk-mblenduk (bulat sempurna).

Sangat Lucu dan unik memang, letak dusun yang berada di kawasan pedesaan tradisional berpadu kontras dengan bentuk bangunan kontemporer. Sekilas mirip perkampungan Hobbit di film lord of the ring. Secara akademis sih dikatakan sebagai rumah domes, tapi oleh warga sekitar lebih familiar dengan sebutan rumah Teletubbies, sebuah tayangan anak-anak yang pernah popular di awal tahun 2000-an.

“mbak, kalo mau ke rumah domes lewat mana dari sini “

“ rumah domes itu apa mas”, jawab mbaknya.

“itu mbak yang di Ngelepen”

-tetap gak tahu-

 “yang bentuknya mirip teletubbies mbaaak” sahutku.

“oalaaaaaaah, itu mas, saya tahunya rumah teletubbies”,  sambil teriak.

“zzzzzzttttt : dalam hatiku”

Jadi jangan heran jika anda akan kesulitan menemukan letak dusun ini jika menanyakan dengan nama rumah dome. Nama Rumah Teletubbies jauh lebih dikenal disini, warga setempat pun lebih bangga mengakui sebagai warga kampung Teletubbies. Nampaknya labeling masyarakat telah berjalan layaknya marketing alami disini.

Keberadaan Dusun Teletubbies di Ngelepen, Prambanan ini tidak bisa dilepaskan dari bencana gempa bumi besar yang sempat meluluhlantakan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kala itu, ada satu daerah perbukitan yang mengalami kerusakan total yakni Dusun Sengir, dimana tanah kampungnya sempat ‘ambles’ sampai enam meter lebih. Karena sudah tidak layak huni lagi, warga Dusun Sengir direlokasi ke perkampungan baru, yang kini dikenal sebagai new Ngelepen.

Pemerintah waktu itu bekerja sama dengan World Association of Non-governmental Organizations (WANGO) dan the Domes for the World Foundation (DFTW) untuk membuat hunian desa baru dengan konsep rumah domes. Setidaknya ada 71 bangunan dome di Ngelepen. Tiga diantaranya berfungsi sebagai bangunan public seperti Mushola, Taman Kanak-kanak dan rumah bidan. Dari luar memang terlihat sangat sempit, tapi ketika masuk kedalam ternyata bangunan dome memiliki 2 lantai.

Ada yang lucu ketika berkunjung disini di awal maret 2012. Bertahun-tahun setelah warga menetap di Rumah Dome, ternyata kebiasaan alami sebagai petani masih sangat melekat kuat. Alhasil, dusun dengan puluhan dome yang awalnya tertata sangat rapi dengan tanaman hias yang seragam, makin kesini makin tidak seragam lagi. Tanaman hias modern yang serasi dengan bangunan dome, diganti oleh sebagian besar warga dengan pohon pisang, pohon jagung, pohon jambu dan sebagainya. Alasannya biar lebih bermanfaat ketimbang memandang cemara atau palm yang tak bisa diapa-apakan. Gubrak !!, emang sih bermanfaat , tapi berasa seperti kebon pekarangan perkampungan desa pada umumnya.

“Sungguh unik, perpaduan kontras bangunan arsitektur kontemporer dengan

pohon pisang, ayam dan gabah padi dimana-mana”

Awalnya pasti warga Sengir berpikir keras untuk meninggali rumah dome yang terlihat seperti rumah alien di planet berbeda. Alhasil tangan alami mereka turut membentuk wajah dusun Teletubbies menjadi sangat desa sekali. Emang gak boleh kalo Teletubbies pelihara ayam, tanam pohon pisang atau jemur gabah di jalanan. Haha.

Memang, sungguh sangat unik Dusun Teletubbies ini. Terlebih rumah dome ini merupakan satu-satunya kompleks rumah dome yang ada di Indonesia, bahkan bisa dihitung dengan jari keberadaanya di dunia. Jika anda tertarik mengunjunginya, akses menuju kompleks Dusun Teletubbies ini terbilang mudah karena lokasinya tidak jauh dari obyek wisata Candi Ratu Boko, Candi Ijo dan Candi Prambanan. Sehingga dapat anda masukkan sekaligus dalam rencana perjalanan untuk mengunjungi kawasan candi-candi tersebut. Perpaduan yang unik kan, setelah dari abad millennium ala Teletubbies menuju era Tutur Tinular, jaman kerajaan ratusan tahun yang lalu. Sungguh unik !.

(Fuji Riang Prastowo).

Belajar Babad Wengker : Kisah Pelarian Putri Majapahit (Bolang Linglung Pacitan-Ponorogo)

Kisah Berlarinya Para Selir dan Putri Majapahit Menuju Wengker (hutan di pegunungan selatan jawa)

“ ndikek kui le, dalan iki dadi seksi sejarahe putri-putri majapahit kang mlayu mergo

Jaman gegere mojopahit, para pelarian nyusuri kali grindulu kanti ujung segoro,

dumugi kui ngetno (ndelok) akeh dusun kang ing kidul gunung pantai dadi

omah terakhire putri  iku sampe mati “

 (Mbah Kosim: Slahung,Ponorogo)

Kepo !, ya itu istilah sekarang yang mungkin tepat buat gambarin sifat jalan-jalanku. Aku “emoh” kalo hanya berkunjung tanpa tahu latar sejarah dan budaya tempat yang aku kunjungi. Kali di ini dikesengajaanku bolang tanpa arah dari kota teluk pacitan menyusuri pegunungan kearah ponorogo, aku belajar seklumit babad tanah jawa. Selama kurang lebih 3 jam perjalanan bus umum dari terminal pacitan, aku di dongengin tanpa henti oleh seorang kakek tua yang duduk disampingku.

Ha, lupa..sepertinya aku harus menceritakan kenapa kok bisa melakukan perjalanan ke ponorogo. Awalnya memang gak kepikiran sama sekali kenapa harus ke ponorogo. Emang aku berangkat ke pacitan dengan touring motor dari jogja, dan saking linglungnya ya sudah kuputuskan untuk ke ponorogo.

“kowe ngopo arep neng ponorogo”

“yoben, ben kroso bar seko dolan, nek numpak motor ra kroso le lungo luar kota”

“kentir !!!”

 

Haha, itu seklumit percakapanku dengan mega teman dari pacitan yang jadi guide kita muter pantai pacitan. Sebenarnya memang sengaja tidak bawa motor sendiri, karena rencananya tanggal 22-24 januari 2012 aku akan touring motor keliling pacitan dengan ade, primi, amal, niko, dan mega. Nah, selanjutnya pada 24-26 januari 2012, aku akan melanjutkan camping sesi dua dengan kawan kolega dari biennale jogja di pantai klayar pacitan juga.

Huuh, karena gagal camping di klayar, aku memutuskan untuk pulang ke kota pacitan bersama mega. Sedang, yang lainnya pulang ke kota jogja pada 24 januari 2012. Memilih untuk pulang, karena konyol kalo nunggu rombongan biennale datang di pantai klayar sendirian. Sampai di kota pacitan sudah magrib, dan ketika tiba di terminal pacitan sudah tidak ada satupun bus keluar dari kota pacitan. Pantas saja, wong pacitan itu dikelilingi bukit, jadi medan terlalu berbahaya untuk perjalanan malam.

“kowe nginep nggonku meneh wae”

“yoh…gelem ra gelem meg, gyahahaha”

Haha, konyol aku harus nginep di rumah mega semalam lagi dan esok hari siap bolang sendiri dari kota pacitan. Pagi pada tanggal 25 Januari 2012, aku udah siap gila tanpa arah. Hari itu diantar mega ke terminal dan mega bertanya sekali lagi.

                “koe yakin arep neng ponorogo, omahmu ngendi, baline ngendi”

“iyo meg, wong jenenge wong bingung, neng ponorogo wae aaah”

Jadi ceritanya aku bolang sendiri sebelum pulang ke jogja. Naah, emang konyol sih seharusnya aku naik bus ke solo (arah yang bener), tapi ini malah berjalan ke timur arah ponorogo..uadooh..hahaha. mau bagaimana lagi, wong namanya orang linglung. Menurutku naik bus umum itu sangat menyenangkan, bisa kenal banyak orang dan tahu kondisi medan cara “wong cilik” hidup.

Itu foto sebelum aku berangkat ke ponorogo. Lihatlah bus seksi yang akan kunaiki. Huuuuh, karat seksinya mana tahan. Apalagi bus itu bakal melewati rute pegunungan yang naik turun abis..hahaha..suka-suka..akhirnya kunaiki bus akap ini dan pamit dengan mega (helm tetap ditangan). Foto ini menjadi foto terakhir, karena aku bolang sendiri jadi mana mungkin bisa leluasa foto. Ya kalau dengan pose 45 derajat alay sih bisa bedd.

Daaaaan, cerita kelas sejarah kuno tanah jawaku dimulai ketika pantatku duduk di bus mini ini. Seorang kakek mendekatiku sebelum bus berangkat menuju ponorogo. Kelas ini praktis akan berlangsung selama 3 jam perjalanan. Haah, sudah lebih dari 3 sks itu mbah +_+.Mbah kosim sendiri adalah salah satu tokoh sanggar reog di  Slahung, Ponorogo. Ia sering berkunjung ke Pacitan karena anak-anaknya hidup disana. Yaa, kembali ke kisah yang sangat menarik ini.

“arep  mudun ponorogo yo le “

“njih mbah, dugi ponorogo “

“oo, ngone sedulur yoo kok dewekan…”

“cuma bisa senyum (sebenarnya ini orang linglung mbah)”

Percakapan normatif pun bla-bla-bla dengan panjangnya. Ngalur ngidul dari ini itu dibahas, sampai aku merasa di dongengi oleh mbah kosim tentang babad wengker. Babad itu semacam sejarah berdirinya suatu daerah. Mbah kosim ingin bercerita setelah aku menanyakan keindahan jalanan sepanjang pacitan-ponorogo. Dimana jalan yang dibangun pas di pinggir sungai, dan itu sangat cantik alaminya. Sungai Grindulu berasal dari Gunung Wilis yang membentang dari Desa Gemaharjo, Kebondalem, Tegalombo menuju muara laut di pacitan.

Sungai grindulu selalu menjadi latar belakang jalanan sepanjang pegunungan pacitan-ponorogo. Mbah kosim menceritakan bahwa sungai tersebut memiliki nilai historis yang sangat panjang sejak jaman majapahit. Kisahnya langsung aku ceritakan dalam kalimat rapi saja, ketimbang tambah panjang jika dikutip dengan percakapan mbah kosim dalam bahasa jawa.

Kisah mbah kosim menceritakan awal mula berdirinya ponorogo yang dulunya merupakan hutan “wengker”. Bukan itu yang sebenarnya menarik bagiku, yang lebih menarik adalah kisah pelarian putri-putri campa (cina) yang merupakan selir pada masa Majapahit menuju tempat pengungsian kearah pacitan hingga pegunungan kidul. Wengker kidul dulunya termasuk Pacitan hingga pegunungan tandus sepanjang Wonogiri dan Gunung Kidul DIY.  Pada awalnya Wengker dikuasai oleh seorang sakti yang bernama Ki Ageng Buwana Keling di Pacitan dan Bathara Katong di Ponorogo.

Ki Ageng Buwana Keling adalah putra Pajajaran yang dikawinkan dengan salah satu putrid Brawijaya V bernama Putri Togati untuk menundukkan kekuasaannya dibawah Majapahit. Kegoncangan besar terjadi ketika datangnya Mubaligh Islam dari kerajaan Demak Bintara yang dipimpin Raden Patah (anak Brawijaya V dari Putri campa yang berlari ke Palembang). Ki Ageng Buwana Keling kalah oleh pasukan Demak yang di pimpin R. Jaka Deleg. Alhasil semua rakyat Wengker selatan memeluk ajaran Islam. Kekalahan ini akibat bantuan juga dating dari Raden Betoro Katong penguasa Ponorogo yang kala itu juga memeluk Islam. Naaah, akibat kedua daerah Wengker Selatan berhasil dikalahkan oleh raden Patah (Ponorogo-Pacitan). Perlindungan dari anak buahnya sudah tumbang dua-duanya. Kala itu Brawijaya V terus berlari menuju pegunungan kidul yang merupakan kekuasaan Mataram (Gunung Kidul sekarang).  Bersama para putri, dayang, prajurit dan pangeran-pangeran majapahit kala itu.

Dulunya para putri campa majapahit yang merupakan para selir kerajaan majapahit lari dari mojokerto setelah terjadinya geger besar-besaran yang mengancam keluarga raja. Mereka lari berhari-hari. Terus berlari menghindari area pemukiman besar di jawa timur. Pelarian majapahit tersebut sering menggunakan aliran sungai sebagai arah mereka berlari. Tujuannya agar tidak tersesat, karena arah aliran sungai pastinya akan sampai ke laut. Dan bagi mereka hidup di ujung selatan pulau jawa lebih aman ketimbang meregang nyawa ditangan para pemberontak.  Kisah pelarian ini semakin menjadi-jadi ketika masa Brawijaya V geger dengan anaknya Raden Patah.

“Para selir Majapahit itu berlari hingga pegunungan selatan pulau Jawa,

Seorang pertapa mengatakan, cara aman untuk menyelamatkan diri adalah berlari

dengan mengikuti arah aliran sungai, dan menetaplah dipegunungan pantai selatan”

Tambah mbah Kosim, tak banyak putri campa yang berhasil hidup hingga pelariannya di daerah ponorogo selatan sampai pacitan atau gunung kidul. Mereka banyak yang mati karena kulit mereka sangat mencolok ketimbang orang jawa pada umumnya. Sampainya di Jogja, benar saja aku langsung mengonfirmasi cerita Mbah Kosim ini dengan berbagai sumber termasuk babad-babad sejarah mengenai babad pacitan, ponorogo hingga babad gunung kidul.

“ ndikek kui le, dalan iki dadi seksi sejarahe putri-putri majapahit kang mlayu mergo

Jaman gegere mojopahit, para pelarian nyusur kali grindulu kanti ujung laut,

dumugi kui ngetno (ndelok) akeh dusun kang ing kidul gunung pantai dadi

omah terakhire putri  iku sampe mati “  (Mbah Kosim: Slahung,Ponorogo)

Artinya : Jaman dahulu, jalanan ini punya sejarah panjang (ternyata diceritakan dalam babad ponorogo, babad pacitan, hingga babad gunung kidul) bahwa jalanan di sepanjang sungai grindulu dulunya digunakan sebagai arah berlarinya para putri-putri campa (selir majapahit) ketika terjadi kerusuhan besar-besaran, (dikonfirmasi dalam buku sejarah, bahwa salah satu putri campa bahkan berlari hingga arah sumatera dan melahirkan Raden Kusen dan Raden Patah di Palembang).

Beberapa putri campa yang menjadi selir para pangeran ketika jaman majapahit itu berlari terus kearah selatan pulau jawa. Mereka berlari hanya dengan beberapa pengawal saja, tanpa dengan suami. Ya, cara yang aman untuk melarikan diri terpisah dengan suami yang notabene bangsawan majapahit kala itu. Mereka akan mudah tertangkap dan mati dua-duanya. Sehingga, para selir ini lari dengan anak-anak, dayang dan beberapa pendekar saja. Berharap suatu ketika kerusuhan selesai dan sang anak dapat kembali ke majapahit untuk mengambil alih kekuasaan. Semacam cerita rakyat cindelaras, tapi ini nyata.

Setelah satu jam lebih bercerita, bus kami mendarat di terminal tegalombo, sebuah kecamatan pacitan paling ujung. Huuuh, kepala sebenarnya sangat pusing karena jalanan berliku, udara panas, dan bau ikan teri di dalam bus. Mantap !. Pasar Tegalombo berada di samping jendela bus akap ini. Sangat padat dan bus yang aku tumpangi menjadi semakin penuh dan gerah !.

Mbah Kosim pun membenarkan letak bajunya dan kembali melanjutkan ceritanya mengenai babad wengker. Jadi wengker itu adalah nama dari hutan di sepanjang pegunungan selatan jawa. Mbah Kosim ini tergolong penganut kejawen menurutku, karena ia beberapa kali melakukan ritual di pegunungan selatan pulau jawa. Terlepas dari itu, cerita pun berlanjut.

Kenapa para putri campa dan keluarga majapahit lainnya lebih memilih berlari kearah barat (mataram), karena pada kerusuhan yang dulu, ketika terjadinya banyak pemberontakan seperti Sati, dan lain-lain. Tempat di pegunungan selatan (gunung kidul DIY kini) adalah yang paling direkomendasikan paling aman. Pelarian terbesar terjadi ketika Brawijaya V bersama pengikutnya menuju Gunung Kidul (DIY sekarang) setelah menolak masuk Islam atas ajakan anaknya, yaitu Raden Patah.

Pada Babad Gunung Kidul, ditulis tentang adanya sebagian pelarian dari Majapahit yang menetap di Gunungkidul, diawali dari Pogangan Nglipar dan Karangmojo. Kemudian Raja Mataram yang berkedudukan di Kartosuro mendengar kabar itu dan langsung mengutus Tumenggung untuk membuktikan kebenaran itu, karena pelarian tersebut berada di wilayah kekuasaan Mataram. Terjadi perang besar oleh Ki Suromejo dan para pelarian Majapahit yang menolak menjadi Islam di Gunung Kidul. Banyak pria yang terbunuh, dan para wanitanya berlari kearah selatan Playen hingga menetap di desa ujung pantai. Saat itu Ki Poncodirjo menyerah dan memeluk Islam. Alhasil dialah yang menjadi Bupati Pertama Gunung Kidul (DIY saat ini).

Oleh Pangeran Sambernyowo, Ki Poncodirjo diangkat menjadi Bupati Gunungkidul. Dan perselisihan terjadi ketika adanya konflik penentuan batas wilayah antara Sultan dan Mangkunegaran II pada 1831 (Babad Mangkunegaran). Maka kekuasaan Gunungkidul dikurangi Ngawen dekat hutan Wonosadi sebagai daerah Mangkunegaran.

“ dan ada kawan dari sosiologi yang KKN di daerah tersebut,

Dimana ternyata satu kampung masih beragama Hindu sekarang,

Masyarakatnya pun mengonfirmasi sebagai wilayah Mangkunegaran

(walaupun secara administarif seharusnya masuk DIY)”.

Para putri campa itu berlari semakin ke selatan setelah rombongannya masuk Islam dan tunduk dengan Mataram. Pelarian tersebut tertulis pula dalam salah satu sejarah penamaan suatu daerah. Tipologi banyak dusun di pesisir selatan merupakan nama dari kisah para pelarian Majapahit itu. Kisah Brawijaya V sendiri berakhir di pengunungan selatan ini (kata mbah kosim yang dikonfirmasi ada dalam catatan sejarah). Sebuah Dusun Gubukrubuh di Getas, Playen Gunung Kidul DIY menjadi salah satu saksi sejarah. Pun nama desa itu sangat terkait dengan sejarah para pelarian ini.

Prabu Brawijaya V akan mengakhiri hidupnya di sini, akibat anaknya sendiri dari rahim putri campa yang dinikahi Arya Damar, Adipati Palembang. Raden Patah yang kala itu seorang pangeran terbuang justru yang menaklukan kekuasaan ayahnya, dan disinilah akhir dari kisah Majapahit. Prabu Brawijaya V malu jika masuk Islam setelah kerajaannya dikalahkan oleh anaknya. Ia bersama prajurit yang tersisa lari ke selatan menghindari daerah utara Jawa yang telah dikuasai muslim. Alkisah Brawijaya istirahat di sebuah gubuk, dan waktu itu pasukan raden Patah menyergap dan mereka kalah. Pasukan Brawijaya menyerah dan masuk Islam. Sedangkaan sang Prabu meloloskan diri. Pun karena kisah ini dusun tersebut dinamakan Gubukrubuh, dimana mengandung arti hancurnya gubuk dan rubuh untuk sembahyang sholat sesuai ajaran Islam.

“ nah kui lee, pungkasane prabu brawijaya kui mau banjur ngobong awake dewe

lan mergo kui dijenengke pantai Ngobaran..putri campa laine mlebu Islam

 lan urip ing pesisir gunungkidul”

Sementara itu, Prabu Brawijaya V yang berhasil melarikan diri tiba di pantai selatan Gunungkidul. Disana ia mengalami kebuntuan karena terhalaang oleh laut selatan. Ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membakar diri hingga tewas. Karena seluruh tubuhnya kobong dan terbakar, oleh masyarakat setempat pantai tempat Prabu Brawijaya V membakar diri dinamakan Pantai Ngobaran, yang berarti kobong (atau terkabar). Kemudian disitu sekarang dibangun Pura Hindu serta menjadi tempat ritual penganut kejawen.

Kisah Para putri campa pun memilih hidup dan masuk Islam. Mereka pun tinggal menyebar di sebagian wilayah Wengker kidul. Mulai dari ponorogo hingga gunung kidul DIY, kini anak keturunannya telah menetap dan menjadi warga lokal. Ada satu tempat di Pacitan yang  tambahnya masih percaya kekuasaan Raden Patah akan dapat diambil alih kembali, dan kemudian Majapahit berdiri kembali. Seorang prameswari melarikan diri dan hidup di sekitar pantai Nampu dan Klayar saat ini. Sebuah desa bernama Donorojo di pacitan (kali ini aku langsung mengonfirmasi lewat fakta sejarah,dan ternyata ada sebuah desa bernama Donorojo sebelum arah pantai Klayar).

Masyarakat menamakan desa tersebut Donorojo, yang berarti Wedono Rojo atau tempat tinggalnya keturunan Raja (Prabu Brawijaya V) yang terpaksa menjadi petani biasa, dan masih berharap kembali merebut kekuasaan dari Raden Patah. Sayang nasib dan pengharapan putri dan pangeran itu tidak sesuai rencana. Islam semakin berkembang dengan sangat pesat,  kisah Wali Songo disini mulai terjadi. Dan para pangeran dan prajurit tersebut dengan terpaksa pun akhirnya tak sedikit masuk Islam, dan sang putrid dan pangeran tetap menjadi hindu hingga meninggal. Sebuah makam keramat di Donorojo diyakini sebagai pusaran terakhir para keturunan pewaris Majapahit itu.

Saat ini, tak sedikit penganut kejawen datang untuk mencari kekuatan atau bertapa disitu. Wilayah ini sangat terkenal, hingga dalam sejarah mistis pertapaannya Soeharto menyebutkan Donorojo sebagai salah satu tempat mencari wangsitnya. Oke, that’s a history, depends on you to respon…

Kecamatan Donorojo di Pacitan pun dikenal sebagai sentra kerajian batu akik atau batu bertuah lainnya. Ini pun sudah dikonfirmasi sebagai paket tempat tujuan wisata di Pacitan. Dan yang paling menarik adalaaaaah, kisah dari Mbah Kosim (dan setelah aku baca berbagai babad) TELAH MENJAWAB rasa penasaranku….ketika menginjak pantai klayar di pacitan dulu, kok heran kenapa banyak sekali anak-anak perempuan yang berparas cantik, sangat manis dengan tipe jawa sekali. Beberapa dokumentasi pribadi dibawah ini merupakan foto anak-anak yang bermukim disekitar pantai Klayar, pacitan. lihatlah tipikal wajah mereka begitu manis, dengan gaya kepang yang masih jadi trend.

“disini terkenal banyak sekali cewek cantik ji,

Wajahnya manis jawa kuno sekali, malah satu desa bernama Kalak itu

Paling dikenal banyak yang cantik di kalangan anak muda kota pacitan” kata mega

Naaah, inilah jawabannya. Mungkin karena latar belakang sejarah ini, ada-ada saja gen cantik itu masih ada di para gadis pesisir pantai pegunungan selatan. Memang sangat benar, aku pun mengiyakan hal itu. Ketika kalian menemukan perempuan yang mempesona di daerah Wengker selatan, bisa jadi itu keturunan para putri campa yang melarikan diri ratusan tahun yang lalu. >,<!!!

Bus akap yang kutumpangi, akhirnya akan masuk ke kota Ponorogo. Dan tiba-tiba secara mendadak Mbah Kosim turun dari bus, waaaaddddddduuuh, aku belum siap ambil kamera dalam tas. Dengan tergesa aku lupa minta foto. Haaah, bus pun hanya berhenti sebentar, dan mbah kosim berpesan padaku, bahwa ia melihat warna muka istimewa di dalam diriku (gak tahu aja itu simbah, kalo karena ini aku jadi tokoh utama mistis di kkn dulu.haha)..pesannya begitu banyak tentang kehidupan pribadiku. Tak mungkin kusampaikan, dan mbah kosim pun turun di Slahung, segera kuambil foto sekenanya. Sosoknya sempat terambil gambar, yang aku lingkari dengan warna merah. Tapi saat, Kutolehkan mataku ke arahnya terus, tapi dia menghilang mendadak.

Bus pun masuk ke kota Ponorogo, kuambil  foto sekenanya dari dalam bus kota ponorogo. Kisah tentang putrid campa dan babad wengker dari mbah Kosim masih sangat terngiang-ngiang dalam diriku. Hhuuuuh, lagi..kok pas perjalanan ya aku selalu mendapat cerita, untuk kali ini kunikmati kota ponorogo selama 4 jam saja, turun dari bus langsung menuju ke alun-alun dan makan sate ponorogo. Kepo sana sini sendirian seperti bocah linglung.

Sudut patung warok Ponorogo.

Sudut di terminall ponorogo

Alun-alun Ponorogo

Makan sate ponorogo,enak banget

nama pasarnya gak nguatin : songgo langit (peyangga langit)

Setelah makan sate ponorogo yang joss situ, siap melangkah kembali ke linglungan selanjutnya. Lalu terpikir ide konyol setelah dikuliahi babad wengker oleh mbah kosim.  Ingin melengkapi cerita daerah wengker selatan sebagai pelariannya para putrid majapahit.

“ apa aku harus ke mojokerto ya ?

Mumpung ada bus restu dai ponorogo Cuma 11 ribu,

Melengkapi cerita tentang Majapahit kuliah hari ini”

 

Haaaah, gila !!! untungnya rencana irasionalku itu digagalkan oleh Tuhan, aku pun telat masuk bus restu dan alhasil harus berbelok arah ke Madiun dan segera pulang ke Jogja !!. Akhirnya aku pulang ke Jogja dari Madiun pukul 5 dengan kereta Kahuripan.  Sampai di Jogja jam 9 malam, dan edaaanya tenaga ini masih full dengan semangat lebih, dijemput niko, amal, dan primi kita langsung menuju ke SEKATEN !!!

Pada Akhirnya inilah kisah perjalanan sederhanaku yang begitu sangat berkesan. Bukan karena ponorogo atau lokasinya, tapi karenanya aku menjadi paham akan sejarah asal mula masyarakat di jawa secara lebih dalam. Kurasa belajar babad-babad Nusantara itu alternative baru yang sangat menyenangkan. Berkat perjalanan ini, aku mulai sedikit ada gambaran bagaimana Pramoedya Ananta Toer mendapatkan ide menulis novel tipikal historisnya seperti calon arang, dan sebagainya. Sungguh, ternyata babad nusantara itu sungguh sangat mempesona untuk dipelajari. jika ini digarap serius oleh sineas film, pasti film kolosal sejarah Indonesia jauh lebih “wah” ketimbang saeguk drama korea. haaah, itu masih menjadi mimpi….

FUJI RIANG PRASTOWO 

Sumber tambahan (konfirmasi): Babad Ponorogo (Bathara Katong), Babad Pacitan (Ki Ageng Keling), dan Babad Gunung Kidul (Brawijaya V).

Petualangan “ gaya baru –ekspedisi menumpang-“ di Malang-Blitar-Kediri dan Madiun

Petualangan “ gaya baru –ekspedisi menumpang-“
di Malang-Blitar-Kediri dan Madiun

Perjalanan kali ini adalah perjalanan terpanjang yang pernah aku lalui sepanjang liburan bersama kawan2 di kuliah,, Total aku telah berada di
Malang : 6 Hari-5 Malam, Blitar: 2 hari-2 malam, Kediri : 5 jam, dan Madiun : 1 hari- 1 malam…..
Entah perjalanan jenis apa namanya untuk liburan ini…hanya bermodal nekad “merepotkan” dan jaringan pertemanan nyatanya kita dapat hidup selama 9 hari,, yakin ini bukan jenis perjalanan yang telah kita lewati seperti Touring seperti di Dieng, Backpacker seperti di Bandung, atau pun Backtravell di bogor..ini baru aku sadari ketika kita berada di Malang,,saat itu tawaran naik angkot ke Kota Batu yang cukup murah 25.000 per anak PP tidak disetujui anak2 karena jadwal kereta –tidak ada rasa kenekadan sperti backpacking lalu dari bandung ke Kawah Putih Ciwidey yang juga dikejar kereta plg-, nah…barulah sadar, ini bukan backtravel bahkan backpacking, disini kita liburan dengan mengantungkan hidup pada teman kuliah…liburan para penumpang…tapi sangat menyenangkan dan goresan baru dalam catatan indah bersama teman selain touring motor yang sudah biasa,,
Karena catatan ini aku –fuji- yang membuatnya, maka ceritanya pun dimulai ketika aku-simbah dan ngarso mengikuti Kongres Jaringan Mahasiswa Sosiologi Se-Jawa /JMSJ di Malang antara tanggal 21-24 Januari 2010 …namun cerita saat kongres akan kutulis terpisah sebagai pengalaman politik berbeda yang telah aku lalui dalam pendewasaan berpikir memecahkan masalah…catatan yang ada pun masih mengunakan perspektif cerita apa yang aku-simbah-ngarso alami, karena teman-teman sperti ocid, topik, dimas, pakde dan sito baru ketemu setelah kongres selesai pada hari minggu,
Sebenarnya perjalanan ini dimulai dari kewajiban kami bertiga mengikuti kongres di malang, dan disusul 5 teman lagi ke Malang yang akan berpetualang keliling Jawa Timur selanjutnya
–baca : setelah bosan Jawa Barat-…..

Rabu, 20 januari 2010
(Berangkat Rombongan Kongres Ke Malang )
Jam 04.00 pagi aku bangun pagi bersama Ngarso, dan simbah menuju Stasiun Lempuyangan…disitu sudah ada kerumunan rombongan JMSJ Korwil III Yogyakarta yang hendak berangkat ke Malang untuk mengikuti congress JMSJ pusat. .rombongan UNY kali ini berada dengan jumlah terbanyak dan melanggar ketentuan kongres yang hanya memperbolehkan delegasi hanya 2 orang saja…rombongan kali ini jumlahnya sekitar 16-an lebih dari UGM-UNY-Atmajaya dan UIN SA.. menuju ke Malang menggunakan kereta ekonomi….di loket pembelian st. lempuyangan aku bertemu Sandhe (sosiatri 08) dan Tempe yang mau jalan2 bersama kedua wanita temannya….
Perjalanan kereta yang aku naiki ini tak memberi cerita banyak tentang kesusahan mendapat tempat duduk seperti perjalanan liburan dulu ketika ke Jakarta dan Bandung…nyatanya aku dapat tidur selonjor dengan bebasnya di bangku ekonomi bersama ngarso dan simbah…
Catatan berangkatnya 06.21 sampai Solo Balapan, 06.35 (Sragen), 08.24 (Madiun), dan 10.59 (Kertosono)…nah di kertosono ini kita pindah kereta yang jurusannya kea rah Malang…pindah jalur lah….dari Kertosono perjalanan berlanjut kea rah Blitar 13.20, Balong 13.52, dan masuk terowongan sidikit panjang selama 2 kali pada 15.38…kita turun di stasiun Malang kota baru pada pukul 15.46
Lalu saja ketemu mas aya anak 07 kordum JMSJ kali ini…semua rombongan pada foto2 di depan patung pas didepan St. Malang Kota Baru atau di plakat Jln. Kertanegara….karena mobil yang menjemput hanya satu, maka dari itu aku dan ngarso pgn jalan2 tapi lalu brussss…ujan gede, segera saja aku berteduh dan makan mie, dengan gorengan Malang yang sangat mantap sambalnya….rencana membeli peta di gramedia gagal lah..karena kita harus berlindung dari gempuran hujan pertama di kota Malang bagi kami,
Menggunakan mobil Kijang, dan disupiri Fauzi (Unibraw) kita menuju ke Masjid Jami’ di depan alun-alun kota Malang. ..haduh…haduh di tengah hujan kiita terlantar dengan perut sangat lapar,,,,ngarso kasihan mau ketemu cowok2 dimarahi sama penjaga masjid yang melaarang cewek bercampur cowok…haha…galak sekali lah penjaga masjid ini
Entah mau di bawa kemana ??? kita rombongan cowok naik angkot dan turun di depan kampus UIN Malang,,,sedang ceweknya dibawa oleh Fauzi….pisah jauhh lah,,,
Terlantar beberapa waktu, lalu disusul Khafi menuju markas PMII UIN malang…
-Cerita selengkapnya terpisah-

Kamis, 21 Januari 2010
(pembukaan Kongres JMSJ II)

-cerita selengkapnya terpisah-
Aku dan simbah di karanttina di barak tentara Bela negara, sedang Ngarso dan semua rombongan kelebihan dari UIN-UNY diusir dari kongres…perasaan pengen keluar timbul, tapi tertutupnya barak tentara membuat bingung dan merasa bersalah pada ngarso….
Setelah ada permasalahan Walk Out dari teman2 korwil III Yogyakarta, kita lanjut sidang bersama atmajaya sampai pukul 23.30…dua universitas saja menangung masalah dari hengkangnya korwil 3 jogja di kongres kali ini..

Jumat, 22 Januari 2010
(Sidang Romusha dari jam 08.30 hingga 02.00 dini hari )
-cerita selengkapnya terpisah-
Gila..gilaan….sidang dan sidang mirip suasana DPR/MPR gak jelas –padahal kongres anak sosiologi kok politik skali bray- dari pukul 8.30 sampai pukul 02.00 Dini hari….stresssss jan wegah sedikitpun besok jadi anggota DPR…sidang itu membosankan, pantas banyak yang tidur kalo tak tahan mental ditempa sesuatu yang menjenuhkan,
Sorenya, aku dan ngarso berpetualang sendiri dan kabur dari barak. Dengan angkot MM dan pulangnya angkot GA kita turun di jalan besuki rahman…gramedia tujuannya….aku beli peta jawa timur dan malang…total kedua peta 50. 000…lalu ambil duit di sarinah depan grammedia….pulang ke barak jam setengah 7-an…dan sidang dimulai lagi hingga pukul 02.00 dini hari…

Sabtu, 23 januari 2010
(Menempa diri menjadi Backpacker dgn jalan2 sendiri saja)
-cerita selengkapnya terpisah-
Pagi jam 7-an aku jalan-jalan sendiri naik angkot…jiwa petualang gak bisa di kurung di dalam barak tentara sedang indahnya kota Malang berada diluarnya, aku naik angkot hingga pusat kota,.,berbekal peta aku cari toko alat tulis, dan aku dapat sebuah kompas seharga 25 ribu,,,,
Magribnya pun aku jalan-jalan sendiri saja,,,nampankya dalam hati,. Aku sudah siap menjadi backpacker hingga ke Thailand -surganya backpacker-, toh aku jalan2 senidiri tak ada masalah bagiku…naik angkot hingga sudut kota malang lain, di kawasan perkampusan Suhat dan beli makanan mahal mie bebek.. tapi mantap….angkot yang aku hapal jalurnya adalah GA dan MM
Magribnya Dibawa ngopi ke Batu bersama rombongan JMSJ sebagai perpisahan…
Aku menempa diri sendiri setelah mempelajari banyaknya bule yang berani berjalan sendiri tanpa teman di negeri orang,, karena terbatasi dana financial di tabungan, kini tempaan pada mental backpack hanya dapat aku lakukan di kota orang, bukan negara orang –berharap besk dapat di negera orang-, sendiri saja seperti orang hilang dengan peta ditangan, aku keliling seluruuuh kota Malang dengan angkot –atau bahasa lokalnya Len-,,

Minggu, 24 januari 2010
(Penutupan Kongress dan Bertemu Ocit, Dimas, Topik, pakde dan tak terduga Sito)
Perpisahan…nah itu yang aku rasakan, walaupun dilanda ketidakbetahan tapi aku pasti akan rindu suasana seperti ini….packing selesai pada pukul 10.an..dan yang pulang pertama adalah Happy dan Amanda (Unair) disusul oleh lainnya….setelah foto bersama di lapangan rampal..
Aku-ngraso- dan smbah adalah delegasi yang selanjutnya pergi dengan mobil mas aya, ..
Sampai di jalan kawi, pusat cindera mata soak ngalam (kaos malang) yang mirip dagadu atau jogger dengan bahasa jawa terbalik..mas aya di telpon bahwa delegasi Jakarta dan beberapa kawanan satu arah ke barat tak mendapat tiket kereta pulang…gyaha..mereka menginap semalam lagi di bela negara….
Aku,simbah dan ngraso di bawa kerumah mas Aya di jalan rajawali, kota Malang…letaknya lumayan jauh dari lapangan rampal Malang.
Setelah mobil mendarat kami berada di rumah yang asri dan dingin dalamnya, disambut adik mas aya yang…beeeeuhhh…manis sekali, -pantaslah kan model-..hedeh…ditempatkan dikamar yang sangat “pink”..entah ini kamar atau showroom boneka…jan sangat manis,, aku mandi duluan, lalu ngarso dan simbah menjemput dani (UNY) di pom bensin sukun…
Lagi, jiwa petualang gak jelas.timbul lagi…aku jalan-jalan kaki sendiri hingga berhenti pada rumah makan menarik hati, nasi rawon Cuma 3000 saja…entah mengapa dari dulu, ada teh yang enak bagiku, teh naga yang hanya kutemui di jawa timur, dalam hati aku harus membelinya,
[ Mam[p]ir lah di Kota Batu ]
Mas aya membawa kami dengan mobilnya,,,aku-simbah-ngarso dan dani UNY ke kota wisata Batu Malang, letaknya tak begitu jauh –kalo dibandingin ya Jogja, Kaliurang- dengan mobilnya kita katanya mau beli mie di alfamart,,ehh ternyata mampir di restoran Quick Chicken –mirip jogja chicken lah-..hedehhh mau makan kok ditempat seperti itu, ada yang aneh ni…kok mas aya jalan ke ruang terlarang karyawan…aku sih udah tau lama kalo mas aya punya frenchise, dan aku baru tahu kalo Quick Chicken adalah kepunyaan dia,,,makan lah sepuas-puasnya –kecuali simbah speerti biasa-…lalu beli oleh2 Malang di ruko sampingnya,,
Perjalanan dilanjutkan menuju puncak kota Batu, ke kebun bunga Selekta…waktu nyampe udah hujan dan berkabut, jam 4-an…yahhh sudah gak masuk dan hanya foto2 di parkirannya saja…
Lanjut lagi mampir di Jawa Timur Park 2, Nasibnya seperti di selekta, dengan biaya parkir 4 ribu saja…kita hanya foto2 saja di depan pintu masuknya…lalu pulang,
Lanjut lagi ke Batu night Spectaculer…speerti biasa lah,,,Cuma sampai depan parkiran..foto2 dan pulang. Dalam hati dilanda rasa penasaran bagaimana dalamnya, saying sudah sejauh ini sampai,,yah intinya Cuma itu, lalu menuju statiun menjemput kawanan dari blitar,
[Menginap di Rumah Nanda]
Perjalanan dari kota batu ke stasiun Malang sempat terhambat karena pawai motor ARema di sepanjang jalan..untungnya kedatangan teman2 dari blitar tidak terlalu terlambat dengan mobil mas aya…ha.gak di jogja gak di Malang lagi..lagi ketemu ocid, topik, pakde, dimas,, sedikit gaya baru nih, ada Sito 07 yang ikut rombongan anak-anak…
Foto sebentar di depan stasiun, kita langsung menuju rumah Nanda (sosiologi 07) yang ada rada jauh stasiun Malang..kalau dipeta malang, dekat dengan jalan panji soeroso..
Sempat kesasar menggunakan angkot masuk perkampungan,, salah turun di depan SMP, padahal yang dimaksud SD di tengah komplek..alhasil, jalan dah…sampai di rumah besar bergerbang hijau kita disambut ibu nanda dan menuju kamar atas…
Kamar itu sangatlah luas dan besar dengan tiga tempat tidur ber-sprei Naruto…seluruh isi kamar bermotif naruto dan kartun anak-anak…di sudut kamar dan dibeberapa dinding rumah ada tulisan Dilarang Merokok, adiknya nanda, gagas pun udah siap sedia pewangi ruangan kalo kalo ada asap rokok…hahah…mirip di rumah ali aji..
Tak lama mengobrol, topik dan anak-anak lain udah tewas dalam rasa capek,,,
Katanya perjalanan dari Blitar ke Malang, mereka ada dalam WC sempit kereta ekonomi, makanya cpeknya kerasa banget…ha, 2 jam berdiri di kamar mandi kereta ekonomi ??, tak mau ngbayangin,!! Apalagi bebarengan dengan rombongan Arema,
Semalaman tak bisa kemana-mana, karena rumah nanda berada di pinggiran kota dan berada di tengah komplek yang jauh dari jalan raya,,micek kabeh akhirnya…tersisa aku-Sito dan nanda yang cerita pengalaman congress ku tiga hari yang lalu hingga pukul 01.00 dini hari…
Tiba-tiba disela sito dan nanda nanggap cerita congress ku, topik dan Simbah Ngelindur…si simbah mencoba meluk topik, dan topik tak begitu saja mau..hhah..ra cetho >,
Sampai di game zone,,Sito marai ngekek..pake helm di wahana motor koin..
Haha…setelah bergaya malu2in,,,mari kita lanjut jalan kaki…
Lewat stadion gayajana,,lurus lempeng aja…tepatnya lewat jalan kahuripan, kita ketemu lagi di bundaran tugu malang yang bash karena hujan,
Jalan kaki ke stasiun kota baru malang gak begitu jauh, dan pakde antri tiket,,
[-Menuju Kota Blitar-]
Kereta kami laju hingga Blitar,,,berada di gerbong paling depan dan gerbong paling busuk dengan lantai –jenes- di depan kami…hujan pula, ,
Ocid dan ngarso turun di st.Wlingi dan tidur di rumah Reny –sosiologi 08-
Rombongan plantangan lanjut !! ke st. Blitar, sampai di sana..ketemu maling satunya, Dani edan..ra cetho numpak motor cepet tenan, padahal tadi pisah di Malang, sekarang ketemu di Blitar lagi…ealah –“
Gak nyangka sampai di depan stasiun kita di jemput layaknya turis2 di Bali, menggunakan mobil travel panjang…haduh..haduh…dalam hati berkata ‘alhamudilah’,,waktunya liburan ni besok siang !! haha….yang jemput adalah teman Dimas, bernama hamzah (anak UNM, bk)
Sampai di kota yang bernama “Srengat” , Kota itu nun lumayan jauh dari kota Blitar,
Setelah beberapa menit, sampailah di rumah hijaunya Dimas,,,rumah loji panjang jawa tengahan kalo aku lihat,,sampai di kamar dengan foto jadul ala dimpil,
Malam-malam, bukanya tidur,,,tetep wae tuan sito beraksi loyo main kartu dengan dani dan simbah, aku ketiduran di depan Tv gak ada yang bangunin…masa’ jam 2 aku bangun malam, mau pindah ke kamar udah penuh dengan tumpukan tubuh..ya sudah lanjutkan tidur di depan Tv sajo !!!

Selasa, 26 Januari 2010
[-Mati Gaya Mode on parah-]
Mau bangun sulit sekali, jamnya bangun pengenya tidur lagi…tapi karena sarapan udah siap, yook.makan pagi pake Pecel,, semua udah berada di ruang makan belakang rumah, dan hanya Sito yang masih njingkrung di dalam kamar Dimas, dia bangun bentar buat makan, lalu….tidur lagi..heleh..heleh…
Hari ini temanya adalah mencuci pakaian > aku dan topik langsung tidur di gelapnya kamar,,,tak berapa lama dibangunin karena Srengat hujan deras disertai angin,, lalu ??/ bagaimana dengan cucian basah kami,,wah siap2 gak ganti baju nih,,
1 jam.2 jam..dst,, kita berada di rumah saja, karena hujan dan teman dimas belum datang –nah ini yang bedain liburan lalu2-…sampai jam 5 kurang sedikit, mobil panther tiba di depan rumah Dimas,,hamzah datang…lalu kita langsung siap2.
[-Makan Malam di Kota Kediri-]
Mobil itu melaju ke pusat kota blitar dan menjemput ocid dan Ngraso di depan agen travel “amanah”,,muka mereka berdua udah Bete menunggu langsung disambut di tempat duduk paling belakang bersama aku dan Sito…mobil itu kami kira menuju pusat kota Blitar untuk mencari makan, tak dinyana…Hamzah mengajak kami lajuu jauuuh ke Kediri,,haha…Cuma buat makan saja kita sampai Kediri wah,,,pengalaman baru bagi kami orang Jogja asli yang jauh dari jalan2 jauh hingga ke kota Kediri, dll di jawa Timur…
Lagi..lagi turunya di mall, namanya sri ratu…kota Kediri, main di game zone lantai paling atas lalu beranjak dari tempat itu ke jalan dhodo,,,depan masjid Kediri atau pas di alun-alun kota Kediri,,,
Kita makan tahu tupat yang manisnya minta ampun, karena rasanya sangat manis, dan tak mengeyangkan…aku dan sito memesan lagi imbuh satu porsi soto daging sapi yang hangat dan enak di santap dikala hari sedang hujan waktu itu…hoho…makan banyak, tapi tetep ngutang sama ngarso karena dompet ketinggalan…
Pulang dari Kediri menuju Blitar ato lebih tepatnya Srengat pukul 8.30 an,.dan kita langsung tertidur lelap dalam mobil,,di perjalanan melewati pabrik rokok gudang garam yang megah…
Anehnya, perjalanan gak begitu kerasa,,,baru setengah jam kita dibangunkan karena udah sampai di area indomaret dekat rumah dimas…
Mobil mendarat di depan rumah pukul setengah sepuluh malam..dan lanjuut aku langsung tidur, sedang manteman masih ngobrol di depan tv
-Sito & Dani Pulang Duluan ke Jogja-
Dasar orang gila !! baru pulang kelelahan dari Kediri, Dani nekad ingin pulang ke Jogja pada jam 11an malam lebih, alasannya hari kamis ada pembekalan KKN PKL pak Gurun di UNY, sedang Sito gak tahu ngikut aja,,si Dani udah siap mau pergi dengan kaos tangan dan helm, tetep saja Sito masih leyeh2 di depan TV, jan tidak jelas sekali orang ini ><
Kereta ekonomi turun distasiun kertosono, hamper pukul satu siangan…
Baru liat juga kepala lokomotif kereta berpindah arah pindah ke pantat gerbong dan balik arah kea rah Surabaya,,
Di stasiun kertosono hitungannya tidak begitu lama, hanya 15-an menit…ocid dan ngarso ke kamar mandi dan beli dawet ayu, semua lalu ikut2an beli dawet dan pecel bertendok biru di stasiun..andai kereta dari blitar telat datang sedikit saja, mungkin kita terpaksai harus ngebis melanjutkan perjalanan ke Madiunnya…
[-Naik Kereta ‘baru’ Madiun Jaya-]
Mendekati pukul satu siang, kereta bagus itu muncul dari arah timur,,jika dilihat dari penampilan kereta madiun jaya itu mirip KRL yang ada di trayek Bogor-Jakarta,,hal baru lah jika dapat meilhat kereta bagus di kawasan Jawa Timur…warnanya orange dan terlihat sangat baru..kereta api diesel itu rupanya baru beroperasi belum genap 2 bulan trayek kertosono kea rah madiun..
Hanya dengan bayar 7 ribu saja, kitra udah dapat kenyamanan..yaah walaupun status KRD nya masih ekonomi jadi non AC, tapi dengan kondisi dalam gerbong yang lapang dan sangat bersih bikin kita sangat nyaman melakukan perjalanan kea rah Madiun..
Dari luar emang mirip Pakuan Express, tapi dalamnya msih kelas ekonomi yang kadang panasnya hari membuat bau cat gerbong bercampur dengan peluh…tapi tak masalah, karena sejauh perjalanan Jawa Timur, kereta ini yang kami anggap paling layak untuk dinaiki…
Sudah bias ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya,,,foto-foto…dan bla,,bla,,,Wcnya pun masih baru dengan merk Toto di seluruh ornamennya,,,
Semua tertidur pulas hanya Pakde yang kekh ingin menikmati KRD madiun Jaya tanpa tidur,,,kalo bicara ocid dan topik udah kaya tidur di teras rumah sendiri, kaki dan kepala entah berada di mana…*petakilan mode on*
Perjalanan kali ini kita ditemani bukan sesama pelancong, tapi dengan segerombolan anak TK atau anak kecil yang sedang diasuh nenek atau kakeknya untuk suapan makan,,haha…makanya suasana yang terbentuk juga rada aneh…anak kecil ada dimana-mana…
[-Menembus Angin Ribut Mirip Puting Beliung-]
Ditengah perjalanan, kami disuguh pemandangan maha dasyat, dimana awan hitam kelam terbentuk diatas hamparan sawah yang luas…awan itu membentuk gelombang runcing mirip beliung dan bewarna hitam kelam…kereta diesel ini untungnya masih berjendela lengkap –walaupun sempat ngiris beberapa kaca terlihat bekas lemparan batu, bonex – .angin itu begitu dasyat,,membuat hamparan padi disawah menari tak berarah…dan hujan yang besar membuat kami terpaksa bangun dari tidur yang lelap, kecuali ocid lah.
Sampai di stasiun Madiun jam setengah tigaan.dijemput seongook mahluk berjaket biru jeans…namanya mbak Tika,,haha…gak di jogja gak di madiun ketemu Tika –sosiologi 08-
Dibawalah kami keluar dari stasiun madiun dan masuk kedalam taxi, sedang simbah naik motor bersama Tika,,,kami masuk kawasan komplek yang tiba didepan rumah artistic bewarna kuning dan tampak masih baru dari bentuk baja Kanopinya..
Turun dari taxi langsung disambut ibu Tika dan dibawa kearah bagasi mobil dan istirahat di ruang tengah TV…
Setelah meletakkan barang bwaan di kamar depan yang penuh dengan tumpukan computer inventaris ayah Tika dari LSM hutan. Kami menuju ruang tengah dan beberapa tertidur pulas di atas bantal TV yang lebar dan besar…pemberitaan tv kali ini masih didominasi oleh pembobolan ATM di beberapa wilayah negeri..
Makan malam dengan lilin di ruang makan yang terbuka membuat perut makin menari enaknya,,,haha…kita ini memang par penumpang yang selalu beruntung mendapat jamuan makan yang beeeuuuh…
Setelah semua sudah mandi dan menunggu maghrib selesai, barulah kita akan jalan-jalan melihat kota Madiun di malam hari..
[-Madiun di Malam Hari-]
Mobil itu lumayan besar dan dirasa tak sesuai dengan ruas kanopi garasi mobil Tika, pakde yang waktu itu lagi mendapat tugas menjadi supir abadi,,haha…Kuda melaju di kota Madiun yang..ya.ya..
Karena malam yang kami lihat ya itu saja,,mendarat di ATM mandiri, ngarso turun, lalu perjalanan berlanjut ke Jalan Pahlawan..tepatnya membeli oleh2 khas Madiun, took bernama Mirasa dengan harga yang tak murah tapi juga tak mahal…anehnya, udah tau toko itu suma sempit, yang melayani hamper ada 10 gadis,,,beuuh,,,gak efisien…apalagi banyak yang duduk-duduk…ternyata setelah membeli oleh-oleh terlihat koko setengah baya keluar, maklum dah milik keturunan lagi..lagi…
Kuda lalu lanjut kearah alun-alun kota madiun…Tika menjadi penunjuk arah sekarang..sampai di alun-alun kota madiun yang bertulisakan alon-alon…penuh pedagang berkaki lima di sepanjang area alon-alon madiun…aku dan simbah beli sate tahu yang enak lah rasanya…
Dan karena hari agak gerimis, kita lanjut wisata kuliner di kawasan dekat dengan stasiun.,kata Tika itu adalah salah satu pojok warung makan Pecel Madiun yang enak..
Yahh, makan pecel madiun yang enak ditemani minuman ublek-ublek tomat yang sedikit aneh menurutku,,setelah makan kita lanjut putar-putar tak jelas hingga kearah luar kota madiun, dan melewati Sungai Bengawan Madiun yang besaarr..puasss berputar-putar kota mdiun ditemani lagu d’masiv, Jadulnya Sheila dan tulat-tulitnya Pw gskn..
Mendarat di rumah Tika rada gelap,dan beberapa langsung tidur seperti Pakde dan Ocid, Tika yo ngono..
Hanya aku-simbah dan ngarso yang berada di teras belakang rumah Tika,,bercerita ngalur-ngidul,,tapi rada mutu nih !!karena yang jadi bhan forum diskusi adalah mau jadi apa yan 3 than lagi setelah lulusa nanti ??, panjang dah cerita kemana-mana…
Karena jam udah pukul 00. Lebih, maka Topik tidur di depan TV bersama tumpukan bantal dan bed cover, sedang ngarso menyusul ocid ke kamar Tika, aku dan simbah terulang lagi bercerita sebelum tidur sperti di asrama Tentara waktu kongres dulu..beberapa hal mempertanyakan pengalaman hidup yang terlampau besar bagi kami..terutama di bidang organisasi

Kamis, 28 Januari 2010
Hari sudah menunjukan hari Kamis, dan tak terasa aku sudah terlalu ppanjang melakukan journey ke Jawa Timur…stok kaos pun sudah tak ada lagi, makanya inilah waktunya kita harus pulang Jogja, jam setengah 2an rencana kita pake kereta Legowo jurusan purwokerto akan menuju Jogja nantinya,
Pagi hari itu kita dikejutkan ada masalah di kawasan kanopi rumah Tika, ternyata mobil tika tergores pilar teras,yah sempat khawatir kalo yang melakukannya pakde,,tapi sedikit bersyukur ternyata adik Tika,,yah walopon ada rasa gak enak juga, kita lanjut makan di ruang makan, kali ini lauknya adalah sayur magelangan Pete plus gereh,gyahah..makan lagi dan kita menuju ruang TV melihat liputan persiapan demonstrasi 100 hari pemerintahan SBY,nampaknya terjadi demo besar di Jakarta dan kawasan lain..
Tak diduga ibu Tika membawa 9 Durian keruang makan..dan karena rasa tidak enak jika tak menyantapnya, kita lahap membuka durian nan kadang enak nan kadang biasa sak, tapi mantap suguhan para penumpang kok di istimewakan..haha..durian yang enak disantap di kota Madiun,
Masih tersisa beberapa gelinding durian, dan kita harus berkemas menuju Jogja,,
Diperjalanan pulang tak lupa mampir lagi ke toko Mirasa buat beli brem, dan lanjuut ke stasium Madiun…tak menunggu lama, kreta ekonomi itu datang dan kita siap lagi berjubel,,
Untungnya di gerbong paling depan dekat dengan lokomotif, tak begitu sesak..malah bikin PW ketika, bias duduk nyamnya menikmati 3 jam perjalanan ditemani semilir angin yang dasyatt…
Beberapa kali kereta berhenti dan kita punya kesempatan buat foto-foto.
Ditengan perjalanan kita bertemu lagi dengan Mas Prima, karyawan KAI yang sempat aku ceritakan di perjalanan Blitar kertosono itu,..jika dilihat2 emang mas Prima cocoknya masih kuliah dan aku kira masih juga seumuran dengan simbah..haha…cerita lagi dah di perjalanan pulang ke Jogja…
Perjalanan 3 jam ternyata tak berasa disbanding beberapa hari kita terlunta-lunta dalam kenyamanan dan penuh cerita sebagai penumpang di Jawa timur,,
Sesampainya di stasiun lempuyangan, jam 4an sore…turun dari gerbong udah kayak orang gila, ocid dan topik berkoar-koar membuat seluruh gerbong terdepan melihat kami berteriak-teriak telah pulang ke Jogja,
Turun dari gerbong sambutan pertama datang dari Ubluk, dengan jaket yang mirip Digor mulai dia bercerita dan kami beri cindera mata brem…lalu datang lagi Sinta dengan membawa brosur Laptop pameran mendatang, nampaknya dia langsung berkonsultasi pada pakde akan membeli jenis apa…hedehh…nampaknya IT sudah mendarah daging yo,,dan secara tak langsung Udin & Jumilah & Slamet akan dapat teman baru –nama-nama laptopnya ngarso-simbah dan aku-,,hehe he…
Jojo datang dengan koloran boxer rada naik…badan kecil itu Nampak dari kejauhan dan menyalami kami yang sedang duduk di depan kantor,,waktu turun kita juga melihat mas Prima yang jalan kearah asrama Diklat, dan memang benar dugaan kita,,dia masih tahap diklat makanya umurnya pun bias dipastikan seumuran dengan kita,
Oleh-oleh cerita dan brem,,itulah yang didapat sinta-ubluk dan Jojo..
Dari seluruh perjalanan liburan, mungkin hanya aku yang mengikuti ketiga-tiganya..
Ketika di Jakarta Bogor (Semester 1), ketika di Bandung (semester 2) dan kali ini Malang-blitar-Kediri dan Madiun (semester 3),,,
Ocid absen pada perjalanan 1, sedang pakde absen pada perjalanan 2 karena tes STAN..hanya simbah-topik dan ngraso sebagai pendatang baru perjalanan menggunakan kereta api non touring…karena mereka udah korlapnya touring motor…
Lanjut berjalan kearah angkringgan di depan stasiun kita minum dan cerita, sedang aku harus segera pulang karena jemputan sudah datang,

Perjalanan dengan ‘gaya baru’ yang telah aku lalui inii begitu mengena dalam banyaknya catatan perjalanan yang telah aku dan teman-teman lakukan selama ini, apabila touring motor telah membudaya ketika kuliah berlangsung, maka perjalanan dengan Kereta api keluar kota, nampaknya akan membudaya di liburan-liburan semester selanjutnya !!!
Saatnya menyusun rencana dan agenda kedepannya,,,pelajari peta jalan dan akomodasinya,,,perjalanan kaum gila ini entah akan berlanjut kemana ?!

Catatan perjalanan dari Fuji R. Prsatowo –pembaca peta dan pencatat-,
30 Januari 2010.

Perjalanan 408 KM Touring Ke Dieng

Sepakat jam 7 pagi, gerombolan motor STNK Sosiologi UGM’08 berkumpul di kampus Fisip untuk berangkat touring motor ke Dieng, Wonosobo, Jateng. Kali ini ada 8 Gerombolan kuda besi : Topik+ Tika , Pakde+Ocid , Fuji+Erid, Digor+Shinta , Dimas+Ngarso , Ubluk+Puput , Jojo+ Asri , dan Simbah+ Shofa
Jam 07.32 berangkat dari kampus fisip menuju arah barat dari terminal Jombor. Motorku menunjukan KM awal adalah 10857 KM, untuk perbandingan nantinya berapa KM yang udah kita tempuh.
Dipimpin Topik didepan, kita menuju ke arah jalan Suroloyo lalu belok ke jalan alternatif ke jateng. Kira-kira jalur yang kita tempuh sesuai pencatatanku adalah :
Jogja-Melati-Sendangrejo-Tambakrejo-Lumbungrejo-Magelang-Borobudur-Salaman-Kajoran-kepil-kreteg-Wonosobo kota-dan Dieng..
Turun bentar di pom bensin sebelum arah Wonosobo (10:03) dan perjalanan sampai di depan loket Dieng pada jam 11.15, selanjutnya naik perjalanan yang sangat menanjak…sampai akhirnya shogun biru milik ngarso kebocoran ban , karena itu kudu turun gunung buat cari tambal ban. Anak-anak selain Digor, Smbh dan Topik pada menunggu di rumah warga dan sholat di Masjid Asthokirin sambil makan cireng mirip kapur barus di depan masjid (13.18) di Kampung warga. Jam 13.37 sampai di depan gapura Dieng Plateau Area.
Destinasi pertama adalah Telaga Warna Dieng (13: 52) , anak-anak sempat beberapa kali nge-rapat karena ongkos masuk semua objek lumayan mahal untuk uang yang pas-pasan di ”sebagian” kantong anak-anak. Jam 14:51 kita turun dari depan Dieng Theater menuju parkir, sehingga lama menikmati pemandangan telaga berwarna hijau dan gua-gua di kawasan Telaga, kita menghabiskan waktu 1 jam-an saja. Selanjutnya kearah Kawah Sikidang Dieng (16:09) berfoto-foto dan melihat uap kawah belerang yang kadang busuk sekali baunya. Tak lama di kawah Sikidang karena jam 16:45 atau jam setengah lima-an dan bersamaan dengan adzan yang gak jelas itu ashar atau maghrib, kita turun menuju plataran parkir Plateau Dieng dan sholat di mushola depan lapangan parkir bus.
Catatan paling seru dan memorial sebenarnya sangat banyak ditorehkan pada perjalanan kita menuju Dieng atau perjalanan turun gunung. Kenekatan kita, jam 18:32 kita berani turun gunung Dieng lewat jalur alternatif Parakan, Jateng yang sangat sempit, kadang rusak berat, Tanpa Lampu, Tepi Jurang Gunung dan Kabut yang lumayan tebal. Bayangkan saja, dengan kondisi gelap dan hanya mengandalkan nyawa di kabel rem dan lampu motor kita turun menuju Kab. Temanggung Jateng. Perjalanan dilanjutkan menuju arah utara keaarah Sukorejo ( rumah Shofa). Rasanya seneng banget bisa melihat kerlipan lampu setelah kita muak dengan pandangan gelap dan kabut yang menyeramkan. Yakin Ribuan mahluk mengerikan ada disebelah kita, untungnya mata gak bisa lihat bentuk mahluk itu.
Turun dari jalan Hutan Teh Terlarang kira-kira pada waktu lewat isya. Turun di Parakan menuju Ngadirejo- Candiroto- dan Sukorejo yang keduanya berada di Kabupaten Kendal dan Temanggung. Sempat gerimis di jalan yang gelap dan bersamaan dengan truk dan bus besar. Setelah perut sangat keroncongan kita makan nasi angkringan di kanan alun-alun Sukorejo dan langsung menuju rumah Shofa yang kami kira masjid pada awalnya. Enaknya tidur dirumah yang besar, bersih dan banyak makanan…makasih banyak sofa ^-^…tidur pulas di kasur depan ruang tamu bagi cowok sekitar hampir waktu tengah malam.
Pagi hari setelah semalam terlelap di kasur yang nyaman kita terbangun oleh ratusan kokok ayam yang banyak diluar rumahnya Shofa. Bangun pagi dan jalan-jalan pagi (05:12 ) oleh aku, ubluk dan sebelumnya Simbah dulu. Huaah…perut pengen boker tapi antri sangat lama, nunggu sumbah- Pakde- Tpoik- Ubluk hingga akhirnya air di bak mandi habis dan perutku masih pengen boker. Larilah ke Masjid selatan rumah Shofa sambil Digor dan Jojo mandi disana. Kita sampai di rumah shofa dan makan pagi jam 08:13 dan ada rapat pulang karena ada kabar ” Rapat yang sangat penting ” jam 13.00 di Taman Depan Fisipol…yah.. karena profesionalitas kita….yah sudah turun saja dan mengalahi bayang-bayang Lawang Sewu, Tugu Muda, Kota Tua, dan Chinese Holland Town kota Semarang yang lumayan tak begitu jauh dari Sukorejo. Dari Jogja ke Sragen saja hanya menghabiskan waktu 2,5 jam motor ..jika Sukorejo ke Semarang akan membutuhkan waktu yang lebih singkat dari arah Jogja-Sragen.. Turun dari Sukorejo, dan pamit sama abinya shofa jam 08:32 dan kita turun ke Jogja karena profesionalitas…Perjalanan pulang tercatat sebagai berikut :
Sukorejo-Candiroto-Ngadirejo-Parakan- Temanggung- Tembarak dan belok ke kanan kearah Secang ( Jika ke kiri itu jalan ke Rawa Pening) dari Secang menuju Magelang- kawasan Mungkid- Muntilan- Salam- Karangnongko-Sleman ( jalan Magelang)- jogja
Sampai di Kampus Fisipol sesuai motor pertama yang turun ( Erid dan Fuji jam 13: 12 pas dan KM motor ku menunjukan 11265 KM ), telat 12 menit untuk waktu rapat ospek yang dijadwalkan terjadi jam 13:00 pas..semua rombongan datang dan serentak kita memulai rapat jam 13 : 24 di Taman Depan Fisipol Meja Elips membahas persiapan rapat ketua dan sie acara besok hari rabu jam 9 pagi..aku pulang ke Kotagede dan mengambil arsip ospek yang akan disusun sie acara di kampus, tapi……….
Akhirnya sesuai dugaan dan perkiraan ku sejak berada di Sukorejo, bahwa rapat memang efektif di undur hingga ”maghrib Hari”, sebenarnya sie acara saja yang bertanggung jawab sendiri atas keteledoran tanggung jawab tugasnya, sehingga pelibatan rapat efektif hanya diperlukan Ocid, aku dan Topik yang membawahi tanggung jawab penyusunan acara…maghrib hari aku, ocid, Topi, Tika, Jojo, Digor brkumpul di Dhimas Embassy untuk menyusun acara..selesai sebentar saja pukul 20:12 dan kita ngobrol hingga pengen makan di angkringan klebengan jam 21:54, kita nge-print sebentar lalu pulang dari Dhimas Embassy tercatat 22:38 dan sampai rumah jam 23:12..
Untuk catatan saja nih, kita turun dari Kendal-Jogja menghabiskan waktu 5 jam lebih dan berusaha merancang secara kilat acara ospek sekitar 3 jam lebih….ingin tahu rapat hari rabu yang terlihat mendesak itu…..?????, aku datang bersama Kiki, Tika, Ocid dan Bagus di ruang 01 B, rapat dijadwalkan jam 09:00, aku datang telat 15 menit, tapi rapat baru benar-benar dimulai pukul 09:53 oleh Mas Bara AN..agendanya sie tak kira sangat penting yaitu pembahasan ruangan dan acara ospek jurusan……tapi……..teeetooot..pihak panitia ospek fakultas bukannya membahas acara ospek jurusan yang 8 jam pengorbanan tenaga itu, tapi hanya malah memilih kepanitiaan saja tanpa mengungkit acara ospek jurusan…heem,, dan pemilihan hanya berlangsung selama 10 menit saja,,,,dari angkatan kita, Tika yang terangkat kariernya menjadi Sekretaris Fakultas.,.dan rapat diakhiri pukul 10:18 ” tanpa SEDIKIT PUN membahas acara ospek yang telah aku buat bersama Ocid, Topik, Tika, Jojo, tadi malam….”. Inilah salah satu lembar catatan buku sejarah harianku yang aku publikasikan, aku sudah menulis buku harian sejak Umur 6,5 tahun..isinya bukan curahan hati, tapi catatan sejarah per-hari bahkan per-jam yang aku jalani…perjalanan Dieng menorehkan 4 lembar catatan penuh di buku sejarah harian ku yang ke 18…..catatan mengenai banyak hal yang aku temukan di halaman 143 sejak catatan kegiatan semester 2 yanh aku jalani di Sosiologi….( Foedjie)