30 Jam Naik Truk (Otokol), ekspedisi Kelimutu !! eps.1

konyol, gila, nekad, edan, kentir, embuhlah !, gak ada kata yang mampu buat gambarin perjalanan paling dasyat ini seumur hidup. mungkin ini yang akan menjadi paling gila, betapa tidak jika dipikir secara rasional mana ada orang yang mau berdesakan ber-25 orang naik di buk truk selama 30 jam. hah, bayangin saja sudah pegal-pegal ini badan. Ini nyata bukan mitos, nyata kita alamin di bulan puasa pula !! gila…

” aee..kalian gila, kita saja orang asli flores naik bus dari ende ke labuan bajo sudah tidak berani membayangkan, apalagi naik otokol !!, gila”, kata seorang temannya teman yang dari ende flores.

di flores otokol adalah kendaraan paling bisa bertahan hidup dan yang paling populer. bisa dibilang yang gahool (semacam angkotnya bogor yang full musik dugem). Otokol ini ya sama, full musik keras dari lagu-lagu daerah suku manggarai, ambon manise, sampai ke wali band. hahaha !! ni aku tunjukin bentuk dari otokol itu gimana,

nah emang gitu bentuk otokol, itu semacam transformernya orang flores. Dasarnya berbentuk truk biasa, tapi ditambah tempat duduk dari bangku didalamnya, ini bukan masalah kreatifnya orang flores, tapi namanya determisme lingkungan kalo bahasa sosialnya. Jadi karena lingkungan alam flores yang bergunung-gunung, pun jalan dengan aspal itu masih dianggap barang mewah di desa-desa pedalaman, karena itu hanya kendaraan paling ampuhlah yang bisa bertahan hidup !!, tak lain dan tak bukan..otokol !!. Harus legowo kalo-kalo penumpang otokol itu gak Cuma manusia tapi juga hewani seperti kambing dan babi…*wajar

Jika sudah terbayang otokol seperti apa, mari anda ikut membayangkan perjalanan 30 jam itu naik kendaraan super ini dengan posisi umplek-umplekan, kita copot kursinya dan jadilah truk biasa seperti di jawa. Ceritanya seperti ini (sambil benerin sarung, dan belagak mau dongeng).

Kami berdua puluh tiga ditambah pak sekdes Nunang dan Dion adik angkatku memulai perjalanan penuh fisik dan mental ini. Haha. Sepulang dari pengabdian masyarakat kurang lebih selama dua bulan di Waesano, NTT. Sebuah desa di atas gunung, tepi danau yang tanpa listrik, sinyal dan sebagainya. Yang ada hanyalah kedamaian *apalagi kalo inget duduk-duduk di saung tepi danau samping paroki : duh kangennya (seperti di dunia kalender)

Hush,kembali ke cerita, pada tanggal 25 Agustus 2011, subuh hari kita sudah siap-siap di cawang dereng rumah bapak Martinus yang dermawan di Labuan Bajo. dan sang tokoh utama itu pun datang ke depan rumah kami. Otokol dataaang !!, gila aja..kita bingung gimana caranya agar manusia sebanyak 25 ini bisa masuk semua di dalam otokol ini. caranya adalah mengembalikan bentuk mula otokol menjadi truk, kita angkat semua bangku-bangku kayu didalam dan alhasil kita bisa masuk semua..yeei, ni lihatlah wajah-wajah kita sebelum berangkat, ini sekitar pukul 10 waktu Labuan bajo. Tujuan kita adalah Ende, Flores Timur. Sedang kami ini berada di ujung paling barat pulau Flores.

20an menit awal masih seneng, dan bersemangat,.yeeii kita coba pengalaman baru, ini yang namanya seorang petualang sejati. Berani taruhan, mungkin “baru” kami yang bisa klaim mau naik truk selama 30 jam itu..gilaaa !, gak papa yang penting eksis. Foto dulu…cissss !

masih bisa foto-foto dengan banyak pose, TAPI…gak ada sejam kemudian, korban berjatuhan satu demi satu. pak, pak, pak, pak….

tiduuur semua dalam keadaan kepala pusing kemana-mana, badan pegel gak bisa gerak jejel-jejelan belasan orang dibawah truk. bau solar, panas mesin di pantat, jalan yang super berliku ala pegunungan flores, dan udara sangat panas pulau flores..lengkap sudah !! wes ini gak bisa dicacat, cacatnya..haduh, itulah pokoknya, mau dikasih footnote setebal skripsi, menurutku ini situasi yang paling sempurna.+_+””

korban pun mulai sistemik, satu-dua-tiga orang tumbang muntah satu persatu. kali ini amal dan mega yang memegang rekor ratunya. disini para petualang dituntut memiliki keahlian tidur masing-masing, pose yang dianggap paling nyaman yang dipakai.

mau pose ini (pose primi)

atau pose ini (pose retsky)

atau mau coba yang paling gila bergelayutan di atas ayunan seperti ini !! (pose niko)

semuanya tergantung pilihan dan iman anda. PERCAYALAH dengan saya. mau sesempurna apapun pose tidur cantik anda, bangun tidur dari otokol ini bentuknya udah kayak gini semua.


wuaaa ngakak, maaf kak umi, maaf retsky, maaf dion, tapi muka kalian bertiga syesyuatu sekali. seperti pepatah hidup segan, mati tak mau..yaa cukup lah buat wakilin gimana muka kita ber25 ini sekejap setelah bangun tidur, bangun lagi di atas papan truk bernama otokol. Dan akhirnyaa, kami sampai juga di suatu tempat (yang pasti bukan ende ya). Haduh..ya itulah, intinya sekitar pukul 4 sore, kami sampai di Ruteng, Flores bagian tengah. (rute ini Labuanbajo-Ruteng)

Kami pun sampai di kota yang hawanya sejuk di flores !! truk kami berhenti di pertengahan kampung, mau servis dulu di salonnya otokol, satu persatu pun turun dari atas peraduan otokol ini. Lihatlah bentuk dari peturonan kami diatas truk itu, lengkap sudah dengan kasur, bantal dan sarung sebagai penutup angin disamping otokol. Haha !!

Aku pun bersorak senang, akhirnya sampai juga di ruteng, dalam hati berusaha untuk senang. Padahal ini baru jam 4 sore, sedang kalo mau sampe Ende sekitar pukul 2 malam nanti. Oh my gosh !! yobeen males ngrusak suasana, yang penting pantatku bisa istrirahat bentar dari kejamnya ibu tiri bernama otokol ini.

Saking leganya bisa mengistirahatkan pantat, langsung turun tanpa alas kaki..sumpah bikin tambah frustasi cari sandal diatas truk kami itu, rasanya pengen langsung muntah bau solar hanya untuk mencari sandal, peduli amat !, lagian ini juga bukan kota kami, mana ada yang kenal, haha akhirnya cari makan tanpa sandal, dan dilihat orang-orang sekitar (semacam baduy mungkin ya). Yoben.

Lumayan jauh berjalan kaki di aspal yang lumayan dingin, kami akhirnya menemukan warung bakso orang Surabaya.eaaa jauh-jauh ke ruteng makannya bakso jawa, ya biarin, hanya ini yang harganya manusiawi, bakso itu namanya “lumayan” semoga rasanya tidak hanya lumayan biar sepadan dengan remuknya badan kami ini atas pembantaian otokol +_+

Perlu diketahui, kota ruteng ini merupakan kota cukup besar di pulau flores. Hawanya sangat sejuk, bahkan cukup dingin. Sepadan jika mirip udara di puncak bogor, karena Ruteng ini terkenal sebagai daerah yang dikelilingi gunung tinggi di flores. Inilah pengalaman pertama bagi kami menginjak tanah Ruteng, sangat tidak menyangka, sebagai orang jawa seringkali mikir kalo pulau flores itu kering kerontang, panas dan sulit air.

Sungguh ini berbanding terbalik dengan iklan Aq*a : “ sumber air su dekat “ !!, apalah…ternyata di sini tidak sama sekali. Bahkan selama kami tinggal di flores, minuman mineral yang paling terkenal merknya RUTENG, bukan yang itu (idem diatas).

Setelah perut lumayan terisi dengan bakso yang lumayan itu, dengan niat baja dan mental semen. Kami bergegas menuju peraduan kami di otokol. Secara alami, mahluk-mahluk sudah menyiapkan posisinya masing-masing di atas truk. Kavling Pantat itu penting disini !, jadi jangan main-main dengan pantat anda. Semuanya butuh seorang petualang yang bisa fleksibel seperti karet, bisa ditekuk atau dilipat agar semuanya bisa masuk ke Truk otomotis romantis ini..

dan sepertinya di foto bawah ini, muka-muka siap dianiyaya sudah pasrah dengan kekejaman ibu tiri truk ini. Foto tersebut diambil pas sebelum otokol berangkat dari Ruteng menuju Ende yang kabar berita akan kita tempuh hingga

Apa semua sudah siap ?? pantat laminating tahan panas mesin, slayer anti solar dan sarung anti badai..cek kelengkapan selesai !!, satu, dua, tiga, aeee nana tidur sudah !!! ><

Badan kami sepertinya sudah pasrah di ombang-ambing kembali oleh truk bernama otokol ini. Dalam tidur kami, lalu kami mimpikan keindahan danau tiga warna itu..

Dalam mimpi kami itu,tergambar kita semua sedang foto di dekat kawah danau dan memegang bendera merah putih, sungguh mimpi yang indah sepertinya. Sambil membenarkan letak sarung, aku selimuti kakiku dan mimpiku itu…semoga waktu berjalan begitu cepat, mungkin akan lebih menarik jika kusudahi saja episode sehari ini. Tunggu cerita selanjutnya, bagaimana kondisi muka kami setelah 15 jam perjalanan pergi ke Ende ini ?, Ceritanya akan sangat menarik setelah ini, apalagi bagi mereka yang masih kuat untuk puasa….haha, sungguh molek kisah ini ^^

Pantat di atas truk dari Labuan Bajo – Ruteng ! (msh 2 kabupaten lg didepan mata)

Bersambung……

fuji riang